Achmad Roestandi

Ketika muda bercita-cita jadi filosof atau sasterawan, Roestandi memang gemar menulis. Puisi-puisi dan tulisannya muncul dalam Sipatahoenan, Manglé, dan lain-lain. Dia juga pernah menulis serial cerita silat Anjar (1967)—yaitu Anjar Lawan Raja Bangsat dan Anjar Tepung jeung Indung—dan Layung Inten (1970). Ia juga menulis beberapa buku teks seperti Tatanegara Indonesia (1971), Pengantar Teori Hukum (1978), dan Kuliah Pancasila (1990). Tatanegara Indonesia yang tebalnya 400 halaman, ditulis untuk siswa SMU, dicetak hingga ratusan ribu eksemplar. “Itu jadi sawah, jadi kebun…,” kata Sang Jenderal tertawa.

Aktif di dunia pendidikan, Roestandi sempat menjadi dekan FH di Universitas Ibnu Chaldun, Bandung. Ketika universitas itu melebur menjadi UNINUS, Roestandi tetap pada posisi sebagai dekan FH, bahkan kemudian menjadi rektor, di samping tetap terlibat di Yayasan Universitas Islam Nusantara.

Aktivitas Roestandi di perguruan tinggi Islam membuat dirinya banyak menekuni buku-buku keagamaan. Ia pun kemudian juga dikenal sebagai juru dakwah, malahan pernah duduk sebagai Wakil Ketua MUI Jabar.

Menikah dengan Aida Raksanagara, Roestandi dikarunia enam orang anak. Penulis buku Ilmu, Filsafat, dan Agama (1971), Islam, Marxisme, Liberalisme, Nasionalisme (1971), Ensiklopedi Dasar Islam (1993), dan beberapa judul lainnya, kini tinggal di sebuah rumah yang nyaman di Banjaran, kawasan pinggiran kota Bandung.

Sumber: Apa dan Siapa Orang Sunda

Komentar

Ngintunkeun Komentar