Ajip Rosidi
Dilihat dari berbagai segi, berdasarkan kriteria terukur, Ajip Rosidi tepat sebagai penerima Anugerah Bandung 2007. Sejak Usia 14 tahun Ajip yang dilahirkan di Jatiwangi, 31 Januari 1938, sudah mengabdikan hidupnya untuk kebudayaan, khususnya seni sastra, ditingkat lokal, nasional, dan internasional. Ketika menjadi warga Kota Bandung secara konsisten melakukan kegiatan kebudayaan, aktif dalam berbagai organisasi kesundaan, antara lain pengurus pleno Lembaga Basa Jeung Sastra Sunda / LBSS (1956 - 1958), Pendiri Paguyuban Pengarang Sastra Sunda / PP - SS (1996), Pengurus PWI cabang Bandung, Ketua IKAPI. Ditingkat Nasional sebagai ketua Balai Pustaka, Ketua Dewan Kesenian Jakarta. Menggerakkan dan menghidupkan komunitas kesusastraan Sunda.
Sampai sekarang menjadi pemrakarsa Hadiah Rancage yang diberikan kepada penulis buku cerita berbahasa daerah (Sunda-Jawa-Bali) sebagai hadiah sastra paling bergengsi di Nusantara. Ajip yang lama menjadi profesor di Jepang banyak mengangkat seni Sunda di pentas internasional, khususnya Jepang. Beberapa seniman Bandung pernah belajar, mengajar, dan berpentas di Jepang. Bahasa dan kesenian Sunda dikenal dan digemari masyarakat Internasional, khususnya Jepang. Kegiatan yang paling spektakuler yang mampu mengangkat citra Sunda, khususnya Bandung, ketika Ajip menyelenggarakan Konferensi Internasionat Budaya Sunda tahun 2000. Meskipun sejak tahun 2003 Ajip menjadi warga Pabelan, Jateng, kegiatan kebudayaan masih tetap dilakukan di Bandung. Ajip mendirikan majalah Cupumanik, dan pendiri penerbit Kiblat Buku Utama yang beralamat di Bandung.
Ajip juga ikut memprakarsai berdirinya Taman Ismail Marzuki (TIM), pemrakarsa penyusunan ensiklopedia Sunda yang dikerjakan di Bandung, dan konferensi Internasional Budaya Sunda (KIBS) tahun 2001 di Gedung Merdeka Bandung.
Komentar
1 Komentar kana seratan “Ajip Rosidi”
Ngintunkeun Komentar
abdi priyogi kana buku-buku Ajip Rosidi, hususuna ngeunaan filsafat Sunda, sareng buku-buku kasundaan sanesna.