Religius Islam Dalam Sastra Sunda
MANTAN Rektor IAIN Sunan Gunung Djati, Bandung, Rachmat Djatnika berbicara bahwa, sebelum agama Islam datang ke tatar Sunda, orang Sunda telah memiliki budaya, yang menjadi adat-istiadatnya. Gambaran ajaran dan budaya Sunda itu dapat dilihat dari pepatah-petitih, nasihat-nasihat, yang biasa didendangkan oleh anak-anak atau para remaja, yang merupakan hasil gubahan para bujangga Sunda.
Duduh Durahman, “Bersembunyi” di Banyak Nama Samaran
“KI Lurah Petingan”, barangkali sebutan itu sangat layak diberikan kepada Duduh Durahman. Perannya sebagai “Lurah” dalam empat (dari lima) film Si Kabayan (Si Kabayan Saba Kota, Si Kabayan dan Gadis Kota, Si Kabayan Saba Metropolitan, dan Si Kabayan Ketemu Jodoh), memang cukup meyakinkan banyak orang. Tapi, harus diakui, ia memang lurah, lurahnya para pengarang Sunda! Dan, “Ki Lurah” ini -di kalangan sastrawan muda kita-akrab dipanggil “Abah” atau “Abah Duduh”.
Memekarkan Kesenian Tradisional Sunda
SEORANG gadis kecil berkulit langsat dan mata sipit agak terbata-bata menembangkan Lokatmala, sebuah tembang Sunda ciptaan Mang Bakang (alm). Saudaranya, juga perempuan dalam usia yang tidak jauh berbeda, duduk agak di belakang memetik kecapi indung. Sedangkan Tan De Seng, ayah mereka, berada di sisi kiri meniup suling.
Dengarlah Bahasa Sunda Merintih!
KOMUNITAS pengarang Sunda, dikoordinir Paguyuban Panglawungan Sastra Sunda (PPSS), 14 Januari yang lalu bertandang ke Kantor Dinas Pendidikan Jawa Barat. Bukan bertandang sembarang bertandang. Melainkan membawa gumpalan kekesalan dan harapan. Setelah empat jam menunggu di terik panas siang, di bawah kelembaban cuaca mengandung hujan, sejumlah pengarang itu, antara lain Etti RS (penyair yang juga Ketua PPSS) Hawe Setiawan (kolumnis dan pengelola “Panglawungan Girimukti”), Darpan Ariawinangun (sastrawan), Dadan Sutisna (Cupumanik), Euis Balebat (penyair dan teaterawati), Ellin RN (jurnalis Sunda), Dhipa Galuh Purba (komunitas Sastra Citraloka), Dian Hendrayana (sastrawan dan penggiat tembang Sunda), diterima oleh Kepala Disdik Jabar, Dr. H. Iim Wasliman, M.Pd., M.Si., didampingi aparat Dikdis dari Balai Bahasa Daerah, yaitu H. Tatang Saefulhayat (penyusun “Ranggeuyan Kadeudeuh”) dan Hj. Endang Setiawati.
Buku Busuk, Kontrol Buruk
PADA Rabu, 14 Januari lalu, beberapa pengarang Sunda, yang antara lain tergabung dalam PP-SS (Paguyuban Panglawungan Sastra Sunda), mendatangi kantor Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat. Kunjungan yang dilakukan tanpa pemberitahuan sebelumnya itu dimaksudkan untuk menyampaikan protes atau keberatan sehubungan dengan seringnya timbul kasus pembuatan dan penyebaran buku pelajaran bahasa Sunda yang dianggap tidak layak, yang melibatkan Diknas Jabar.
Bahasa Sunda, Dipelihara dan Dianiaya
DEMO para pengarang Sunda ke kantor Dinas Pendidikan Provinsi Jabar, Rabu 14 Januari 2004, luput dari pemberitaan pers. Mungkin tidak memiliki nilai news terlalu penting. Padahal, demo yang dikoordinasikan Paguyuban Panglawungan Sastra Sunda (PPSS) tersebut bertujuan membela upaya pemeliharaan bahasa Sunda, baik sebagai bahasa tutur (lisan) sehari-hari mayoritas penduduk Jawa Barat, maupun sebagai bahasa buku (tulisan). Mengapa diarahkan ke kantor Disdik Provinsi Jabar? Sebab, selama ini ditengarai, instansi yang dibebani kewajiban memelihara bahasa Sunda melalui program pengajaran, dengan dukungan dana resmi pemerintah daerah yang notabene uang rakyat, justru tidak melakukan tugasnya secara baik dan benar.
Buku Sunda, Evaluasi 2003 & Prediksi 2004
KETIKA krisis ekonomi melanda Indonesia pada 1997, penerbitan buku adalah salah satu sektor industri yang terpukul. Namun, keadaan itu tampaknya tak berkepanjangan. Setidaknya 3-4 tahun terakhir ini, dunia penerbitan ternyata sudah kembali marak. Bahkan, yang “mengharukan,” munculnya penerbit-penerbit kecil di Jakarta, Bandung, dan, khususnya, Yogyakarta.
Meningkatkan Kesadaran Berbahasa Sunda
DEMIKIAN pentingnya suatu bahasa bagi masyarakat pemakainya, kini menjadi perhatian dunia. UNESCO, sebagai Organisasi Pendidikan, Ilmiah, dan Kebudayaan dalam Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), pada bulan November 1999 menetapkan tanggal 21 Februari sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional. Maka patut kita menghargai para pendahulu yang mengambil langkah cemerlang yang begitu arif dan bijaksana. Diperlakukannya bahasa-bahasa daerah seperti Sunda, Jawa, Bali, Madura, Bugis, Makassar, dan Batak sebagai salah satu unsur kebudayaan nasional, serta dilindungi dengan dimasukkannya Pasal 36, Bab XV, UUD 1945.