Bahasa Ibu Landasan Inti Budaya Jepang
NAMANYA Otsuka Hiroko. Penampilan dan cara bertuturnya, khas perempuan Jepang. Apik dan sangat teratur. Itu terbukti dari cara dia membuat janji wawancara dengan “PR”. semua SMS yang dikirimnya menggunakan susunan kosakata bahasa Indonesia yang baik dan benar. Begitu pula saat ia bertutur. Kita yang mendengarkannya, seperti sedang membaca sebuah buku.
Otsuka lahir di Tokyo. Menyelesaikan studi kesarjanaan di Universitas Waseda Tokyo (1977). Gelar master diraihnya dari bidang ekonomi internasional dan ekonomi pembangunan di universitas yang sama tahun 1983.
Kemudian masuk sebagai research student di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI) Jakarta pada 1979-1981 dan menjadi research student di Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran pada tahun 1981-1983.
Karier di bidang kebahasaan dimulai saat dia menekuni bidang pendidikan bahasa Jepang (1983) dan pada 1994 dan 2006 mengikuti pelatihan pengajaran bahasa Jepang di International Japanese Language Center, Japan Foundation. Tahun 1995 memperoleh kualifikasi kompetensi mengajar bahasa Jepang dari Menteri Pendidikan Jepang. Sejak 1988 mengajar di Jurusan Bahasa dan Sastra Jepang, Fakultas Sastra Unpad. Pernah pula menjadi pengajar bahasa Indonesia di universitas-universitas Jepang dan Asahi Culture Center.
Bagaimana perempuan yang juga bekerja sebagai penerjemah bahasa Indonesia lisan dan tulisan ini, memaparkan perkembangan bahasa daerah maupun bahasa nasional di Jepang? Bagaimana pula sikap budaya bangsa Jepang terhadap bahasa ibu dalam memengaruhi pola dan cara berpikirnya? Berikut petikan wawancara wartawan “PR” Eriyanti Nurmala Dewi bersama Shensei Otsuka Hiroko, salah seorang nara sumber pada acara “Mieling Basa Indung” yang diselenggarakan Paguyuban Panglawungan Sastra Sunda (PPSS) beberapa waktu lalu di Unpad.
Mengikuti pembicaraan bahasa ibu pada seminar kemarin, banyak hal yang masih mengundang pertanyaan. Bagaimana sebenarnya sejarah perkembangan bahasa ibu di Jepang?
Bahasa ibu bagi orang Jepang secara umum adalah bahasa nasional (Kokugo) yaitu bahasa Jepang standar yang dibentuk berdasarkan bahasa atau dialek Tokyo. Namun, seseorang dapat saja menganggap bahasa ibunya sendiri adalah dialek atau bahasa daerah asalnya yang disebut Hougen. Dialek (bahasa daerah) di Jepang pernah mengalami masa krisis ketika gagasan pembentukan bahasa Jepang sebagai bahasa nasional terjadinya setelah restorasi Meiji 1867. Memasuki zaman Meiji ini, pemerintah Jepang menentukan bahasa nasional agar komunikasi antardaerah tidak sulit. Sebelumnya, Jepang tidak mempunyai bahasa nasional, yang ada hanya bahasa-bahasa dialek atau bahasa daerah. Tidak diperlukannya bahasa nasional pada waktu itu karena mobilitas masyarakat pada zaman Edo masih terbatas. Berbeda dengan era Meiji, penggunaan bahasa nasional dalam pendidikan sangat penting dan mutlak. Hal ini sejalan dengan kebijakan sentralistik di Jepang. Buku-buku dan cetakan dibuat dalam bahasa nasional. Begitu juga kaum intelektual Tokyo, anak-anak, orang dewasa semuanya menggunakan bahasa nasional.
Bagaimana peran pemerintah dalam mendorong pertumbuhan bahasa dialek atau daerah?
Pemerintah sebenarnya tidak begitu mendorong terhadap pertumbuhan bahasa dialek atau daerah. Terutama dunia pendidikan karena pemerintah justru sangat gencar mengharuskan masyarakat menggunakan bahasa nasional.
Kesadaran kembali kepada bahasa dialek atau daerah itu awalnya dari masyarakat Jepang sendiri. Tetapi kemudian pemerintah pun mengubah kebijakannya dengan adanya kebijakan kembali pada bahasa dialek atau daerah.
Bagaimana perkembangan dialek atau bahasa daerah itu pada saat ini?
Bahasa daerah diserahkan kepada pemerintah daerah karena pemerintah daerah itulah yang menyelenggarakan pendidikan. Pendidikan di jepang itu bukan dari pemerintah pusat. Jadi mereka bisa punya kebijakan pendidikan masing-masing setiap daerah yang disesuaikan dengan daerahnya masing-masing. Namun, memang belum banyak daerah yang punya kurikulum bahasa daerah. Untuk bahasa ibu, masyarakat makin menyadari lemahnya kemampuan bahasa tersebut. Mereka termasuk pemerintah daerah mengingatkan hal itu agar ditingkatkan. Dengan cara membaca ulang syair-syair pada zaman dulu sehingga dapat mencerap dan mengambil kosakatanya. Selain itu, di Jepang juga terdapat komisi pertimbangan kebijaksanaan bahasa nasional ke-22 Jepang. Komisi ini mengadakan survei tentang kompetensi dan kesadaran berbahasa masyarakat setiap tahun. Dari situ tampak kesalahan dan perubahan orang-orang dalam berbahasa. Hasil survei tersebut diolah dan menjadi masukan bagi pemerintah.
Apakah bahasa ibu masih digunakan?
Bahasa dialek masih digunakan. Namun karena pengaruh media cetak dan televisi begitu lebih besar, masyarakat yang menggunakan bahasa dialek makin sedikit. Tetapi televisi daerah masih menggunakan bahasa dialek daerah tersebut. Selain itu, dialek yang pemakainya besar (banyak), ikut memengaruhi daerah kecil. Begitu juga kota besar, ikut memengaruhi kosakata bahasa nasional saat ini. Sehingga terjadi percampuran kosakata nasional dan dialek. Ini bagus, sebab anak-anak juga semakin baik dalam berbahasa nasional. Kosakata yang digunakan merupakan perpaduan antara kosakata dialek dan nasional.
Bagaimana kondisi ini bila dibandingkan dengan kondisi bahasa di Indonesia?
Bahasa Indonesia juga mengambil kosakata bahasa daerah dan itu cukup efektif. Tetapi bahasa nasional Jepang tidak sengaja mengambil daerah itu. Hal itu terjadi hanya karena interaksi orang-orang saja yang lama kelamaan setelah masuk kamus diakui sebagai resmi. Proses seperti ini tidak otomatis. Misalnya wartawan, bila ia sering menggunakan kosakata dari dialek tertentu, maka wartawan itu akan memengaruhi masyarakat dalam menggunakan kosakata tersebut.
Apakah masih ada suatu daerah tertentu yang hanya menggunakan bahasa dialek di Jepang?
Kalau di keluarga-keluarga masih dan itu banyak. Terutama generasi yang lebih tua. Tetapi karena ada hubungannya dengan bahasa nasional semakin intensif, akhirnya campur juga.
Bagaimana perkembangan bahasa memengaruhi perilaku seseorang di Jepang?
Bahasa ibu (yang kini sudah menjadi bahasa nasional) merupakan landasan inti kebudayaan Jepang. Dalam setiap kata bahasa Jepang terakumulasi perasaan sedih, pedih, sakit, gembira, dan sebagainya dari pengguna leluhur bangsa Jepang. Maka untuk mengerti dan mewarisi budaya tradisional dan kemudian mengembangkannya menjadi budaya baru, bahasa ibu mutlak diperlukan. Sedangkan bahasa daerah atau dialek merupakan inti masing-masing budaya daerah sebagai bahasa kehidupan sehari-hari untuk memupuk budaya tradisional daerah dan hubungan manusia di komunitas setempat. Saya orang Tokyo, sering mencoba meniru dialek Osaka atau kota lain, tetapi sulit. Sebab bahasa Jepang terkenal dengan pola aksennya yang sangat beragam. Selain itu, komunikasi antarorang Jepang sangat kuat kecenderungannya atau ketergantungannya terhadap pengertian bersama pada suatu situasi atau hubungan manusia. Pengertian bersama itu yang membantu komunikasi verbal. Tetapi terhadap orang lain, pola ekspresi ala Jepang tidak efektif dan dapat menimbulkan kesalahpahaman. Makanya komisi pertimbangan kebijaksanaan bahasa nasional ke-22 menyarankan, orang Jepang harus lebih jelas, tegas, tepat, dan tidak perlu menggunakan pola yang penuh eufimisme pada saat berkomunikasi dengan orang asing. Karena akan menimbulkan terjadinya kesalahpahaman.
Dalam bahasa, orang juga mengenal cerita rakyat, sastra, dan kebudayaan dalam lingkup yang lebih luas. Bagaimana hal ini terjadi di Jepang?
Setelah pemerintah dan masyarakat menoleh kembali pada budaya daerah sekitar tahun 1990, banyak cerita rakyat dan dongeng rakyat yang digali dan dipublikasikan. Cerita yang berasal dari mulut ke mulut juga direkam, dicatat, dan dicetak. Setiap seni tradisi yang berkembang di masyarakat, orang yang mempunyai keahlian tradisi dan mungkin bisa punah, festival-festival tradisional, bangunan, dan lain-lain yang berhubungan dengan tradisi, semuanya direkam, didokumentasikan. NHK termasuk lembaga yang paling banyak dan gencar melakukan pendokumentasian. Dia (NHK-red) menggunakan high vision untuk mengarsipkan semua itu. Sehingga meskipun pewaris budayanya mungkin sudah tidak ada, kebudayaannya tetap ada. Jika suatu hari nanti, kebudayaan tersebut ingin dibangkitkan kembali, tinggal membuka kearsipan dan dokumentasinya.
Bagaimana sebuah proses tradisi diturunkan di Jepang?
Semua penduduk Jepang tercatat di pemerintahan. Hal ini berhubungan dengan wajib belajar dan masa-masa tertentu di mana pemerintah harus memberikan pelayanannya kepada warga. Karena semua penduduk tercatat, pada saat seorang anak berusia 6 tahun, ia akan mendapat kartu pos. Dalam kartu pos itu disebutkan, bahwa anak tersebut harus bersekolah di sekolah tertentu yang ditunjuk pemerintah. Begitu juga masyarakat yang berusia 20 tahun. Pemerintah daerah setempat mengundang masyarakatnya yang berusia 20 tahun untuk merayakan upacara orang dewasa yang disebut “Seijin Shiki”. Pada perayaan ini para gadis mengenakan kimono dan mendapat ceramah tentang tanggung jawab sebagai orang dewasa. Biasanya pada saat itu, merupakan kali pertama para gadis mengenakan kimono. Melalui perayaan ini, pemerintah ingin memberi rasa tanggung jawab kepada warganya selaku orang dewasa. Kaitannya dengan kebudayaan, ratusan tahun lalu, kaum samurai Jepang biasanya laki-laki, akan di anggap sudah dewasa bila sudah mencapai usia 15 tahun. Pada usia ini, mereka melakukan upacara khusus cukur rambut sebagai bentuk pendewasaan seseorang. Upacara ini dilakukan di rumah-rumah, sedangkan upacara “Seijin Shiki” dilakukan di suatu tempat tertentu secara bersama-sama sebagai adaptasi dengan kekinian.
Bagaimana bahasa memengaruhi ekonomi dan politik di Jepang?
Di Jepang bahasa nasional sangat dipertahankan, bahasa daerah atau dialek masih digunakan. Bahasa nasional digunakan untuk segala bidang studi dan industri. Kecuali dalam penulisan karya ilmiah digunakan bahasa Inggris karena dimuat di media luar negeri. Begitu juga kalau ke luar negeri, orang Jepang tetap menggunakan bahasa Inggris sebagai tuntutan bahasa internasional. Keistimewaan bahasa Jepang daya pembentukan katanya sangat produktif terhadap bahasa sendiri maupun bahasa asing karena memiliki beberapa jenis huruf. Sehingga istilah komputer, istilah kedokteran, dll. biasanya ditulis dalam tulisan huruf Jepang. Bahkan kini, semakin banyak penutur asing di luar Jepang yang mempelajari dan menggunakan bahasa Jepang.
**
MENGAKU mengenal bahasa dan budaya Indonesia sejak kos menjadi mahasiswa, Otsuko merasa tidak mengalami “kekagetan” budaya pada saat menikah dengan orang Sunda. Malah, ia merasa sangat cocok dengan iklim, makanan, maupun kebiasaan-kebiasaan orang Sunda. “Saya sangat suka pepes dan karedok. Saya juga merasa sangat akrab dan diterima pada saat berbicara menggunakan bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia itu sangat akrab dan familiar,” ujar Otsuka yang mengaku sudah jarang ke Jepang karena biaya tiketnya yang mahal.
Bagaimana pernikahan ini berpengaruh terhadap pola interaksi dua budaya di rumah?
Anak-anak saya menjadi sangat kaya kosakatanya. Mereka bukan saja fasih menggunakan bahasa Indonesia, Sunda, tetapi juga bahasa Jepang. Dalam kehidupan dan komunikasi sehari-hari, kita semua menggunakan bahasa Jepang. Karena memang saya ingin mempertahankan bahasa Jepang sebagai aset.
Tetapi karena suami saya juga ahli bahasa Jepang dan orang Sunda, saya tidak khawatir anak-anak tidak bisa berbahasa Sunda. Hanya saja, karena keadaannya sudah berbeda, sangat sedikit saya mengenalkan tradisi dan kebudayaan Jepang terhadap mereka.
Apa yang Anda banggakan dari Jepang, khususnya yang terkait dengan bahasa?
Oh banyak sekali, tapi kalau dari segi bahasa, saya merasa bangga dan bersyukur karena kosakata bahasa Jepang itu sangat kaya dan mewakili setiap ungkapan rasa penuturnya. terutama yang berhubungan dengan emosi sehingga bisa lebih mengungkapkan isi hati dan mewakili perasaan penuturnya pada saat digunakan. Hal ini sangat memperkaya bahasa anak.
Menurut Anda, apa yang harus diupayakan agar bahasa Sunda sebagai bahasa ibu tidak punah?
Waduh susah ya. Tapi kalau dilihat dari sisi pengajar bahasa asing, ada 4 hal penting dalam pengajaran bahasa yaitu, membaca, mendengar, menulis, dan bicara. Keempat hal itulah, yang harus terus dicari dan dikembangkan. Terutama dalam bentuk pengajarannya.***
Sumber: Pikiran Rakyat, Minggu, 11 Maret 2007
Komentar
2 Komentar kana seratan “Bahasa Ibu Landasan Inti Budaya Jepang”
Ngintunkeun Komentar
Hatur nuhun kana artikelna, nambih wawasan
ada eglish versi situs ini?