Mendesak, Kebutuhan Guru Bahasa Sunda

Pengadaan kebutuhan guru bahasa Sunda dan daerah di Jawa Barat saat ini sudah sangat mendesak dan urgen. “Untuk itu, saya telah menugaskan Dinas Pendidikan (Disdik) Jabar dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jabar segera melakukan inventarisasi berapa kebutuhan guru bahasa Sunda dan daerah di Jawa Barat,” ungkap Gubernur Jawa Barat, Drs. Danny Setiawan kepada wartawan usai membuka peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional “Ngindung Ka Basa Indung” di Aula Unpad, Jln. Dipatiukur Bandung, Selasa (21/2).

Gubernur mengakui, Jabar masih sangat kekurangan guru bahasa Sunda dan bahasa daerah. Bahkan, selama ini guru bahasa Sunda di sekolah-sekolah masih dirangkap oleh guru mata pelajaran lain.

“Di Jabar sampai saat ini belum mempunyai guru yang benar-benar menguasai (apesialis, red) bahasa Sunda dan daerah. Mudah-mudahan, kerja sama Disdik Jabar dengan Disbudpar bisa sesegera mungkin menyediakan guru spesiasialis bahasa Sunda dan bahasa daerah bagi sekolah-sekolah, khususnya sekolah dasar (SD),” paparnya.

Menurutnya, penyediaan spesialis guru bahasa Sunda dan bahasa daerah di sekolah-sekolah sudah masuk agenda pembahasan dengan dewan tahun ini. “Mudah-mudahan dalam tahun ini, pemerintah menyediakan guru bahasa Sunda dan bahasa daerah, walaupun kuotanya masih kecil,” kata gubernur.

Sementara itu, Kadisbudpar Jabar, Drs. I. Budhyana mengaku telah menyusun rencana dengan Disdik Jabar dalam penyediaan guru bahasa Sunda dan bahasa daerah. Untuk tahap pertama, kata Budhyana, akan dilakukan penataran dan pelatihan mengenai bahasa Sunda bagi guru-guru yang sudah mengajar bahasa Sunda di sekolah-sekolah, baik di SD, SMP maupun SMA.

“Untuk tahun ini, kami akan melakukan penataran dan pelatihan bagi guru-guru yang merangkap, yang menjadi guru bahasa Sunda dan mata pelajaran lain. Ke depan, kita akan merekrut guru bahasa Sunda lulusan dari Universitas Padjadjaran (Unpad) dan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung,” tambahnya.

Sedangkan penyediaan guru spesialis bahasa Sunda dilakukan secara bertahap, minimal dalam satu tahun bisa menghasilkan 5 - 10 orang guru bahasa Sunda. Bahkan, Budhyana berani mentargetkan pada 2010 ketersediaan guru bahasa Sunda dan daerah di Jabar bisa terpenuhi.

Diakui Kadisbudpar, pemerintah kurang memanfaatkan lulusan sastra Sunda dari Unpad Bandung dan UPI Bandung untuk diangkat menjadi spesialis buru bahasa Sunda dan daerah. Padahal, kualitas lulusan sastra Unpad dan UPI ini bisa diandalkan untuk menjadi guru bahasa Sunda dan daerah.

“Makanya, mulai tahun ini pemerintah akan berusaha merekrut lulusan sastra Sunda dari Unpad dan UPI untuk dijadikan guru bahasa Sunda dan daerah,” ujarnya.

Sedangkan untuk tahun ini, pemerintah akan memanfaatkan para guru yang menjabat rangkap sebagai guru bahasa Sunda dan daerah maupun mata pelajaran lain. Hal itu dilakukan, katanya, agar keberadaan bahasa Sunda dan daerah tetap bisa terpelihara dan lestari di sekolah-sekolah.

Sebelumnya pada pembukaan Hari Bahasa Ibu Internasional, gubernur merasa khawatir, bahasa Sunda sebagai bahasa ibu di Jabar akan hilang dalam waktu yang tidak lama lagi. Hal ini berdasarkan, dari peneletian di dunia terdapat 6.000 - 7.000 bahasa etnis (ibu) yang setiap hari hilang tidak kurang dari 10 bahasa etnis.

“Nasib bahasa Sunda sebagai salah satu bahasa ibu yang hidup di Jabar, kini mulai ditinggalkan dan masuk katagori hirup teu neut paeh teu hos,” katanya.

Matinya bahasa Sunda, kata gubernur disebabkan beberapa faktor, antara lain media massa cetak sudah tidak menyediakan lahan yang cukup untuk menghidupkan bahasa Sunda. Selain itu, siswa sekolah menengah ke bawah sudah tidak mau menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa sehari-hari, baik di rumah maupun di sekolah. Yang lebih memprihatinkan, para pejabat, sesepuh Sunda, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun berpidato sudah tidak menggunakan bahasa Sunda. “Kalaupun menggunakan bahasa Sunda, pacampur aduk jeung basa Indonesia,” katanya.

Sedangkan yang lebih memprihatinkan lagi, mata pelajaran bahasa Sunda di sekolah-sekolah waktunya sangat sempit dan hanya sampai SMP.

Pada kesempatan sebelumnya, gubernur sempat membacakan sajak “Sunda Kuring” karya Juniarso Ridwan. Disusul oleh Ketua DPD Golkar Jabar, Uu Rukmana membacakan sajak “Munara Masjid Agung Bandung”, Rektor Unpad, Prof. Himendra Wargahadibrata membaca sajak “Cikapundung Najung Kidul”, Kadisbudpar dengan sajak “Cikapundung”, dan Seniman Iman Soleh “Sunda Kuring”.

Sumber: detik.com

Komentar

3 Komentar kana seratan “Mendesak, Kebutuhan Guru Bahasa Sunda”

  1. Usup Supriyadi | 11-02-2008, 03:32:45

    Hapunte sateuacana……
    Abdi bade naros kumaha prospek lulusan sarjana pendidikan bahasa daerah kumahanya? Sababna taun iyeu abdi bade nyandak jurusan eta di UPI Bandung. Haturnuhun

  2. sukmawati | 17-05-2008, 03:16:32

    Sampurasun….
    maos seratan “mendesak kebutuhan guru bahasa Sunda” sim kuring sapuk sareng eta pamendak kumargi kitu kanyataanana rehna guru basa sunda teh kirang pisan,contona di padumukan sim kuring (kota Bogor)anu janten guru basa sunda utamina guru SMA nu luyu sareng jalur atikanana(kompetensi pedagogikna)teh kirang pisan, moal langkung ti 10 jalmi.Atuh eta para sarjana basa sunda teh boh nu ti UNPAD atanapi ti UPI pada ngagorenyangkeun laris…manis….MUNG HANJAKAL..EDAS PISAN…dugi ka ayeuna lima taun pangalaman janten guru basa sunda teh masih keneh ngaraos diapi lainkeun, ongkoh tadi tea “mendesak” tapi dugi ka danget ayeuna teu acan aya kelemeng-kelemengna kanggo pengangkatan.Nasib sarjana sastra Sunda teh cekap ku janten GTT atanapi guru honorer anu kanggo nyekapan pangabutuh sadidinten mung ngandelkeun panaur ti sakola nu teu sabaraha ageungna (komo dibandingkeun sareng guru PNS mah jauh tanah ka langit!!!)padahal mah beban pangajaranna sami sareng guru nu sanes (malah langkung abot ngemutkeun motivasi siswa-siswi kiwari nu kalintang kirangna kanggo diajar basa sunda teh)sakapeng oge jam ngajar langkung seueur manan guru PNS sanesna. Kumaha yeuh?….naha artikel-ertikel diluhur teh mung sakadar cariosan wungkul,dugi ka iraha sim kuring sareng rerencangan sanasib ngantos-ngantos kapastian?, parobihan nasib?, penghargaan profesi?,saha anu bade malire?..dugi ka ayeuna masih poekeun. Hatur Nuhun

  3. Mang Amat | 27-10-2008, 07:38:11

    sabada maos tina wacana eta geuning mung wacana wungkul teu acan aya realisasinya, iraha atuh bade di realisasikeunana ? abdi nuju ngantosan bewarana tina lajuning lakuna dugi ka ayeuna geuning teu aya wae, cenah guru basa sunda kirang tapi dina formasi cpns basa sunda teu acan aya ti tau ka taun teh.Mugia tiasa direalisasikeun

Ngintunkeun Komentar