Musikalisasi Puisi Sunda

Tradisi musikalisasi puisi atau sajak Sunda kini tengah mengemuka. Frase musikalisasi puisi sendiri memiliki arti memusikkan puisi, atau lebih jauh membuat musik, lagu, atau nada-nada musikal dari puisi.

Puisi dalam sastra Sunda meliputi puisi lama, seperti mantra dan aneka macamnya, sisindiran, wawacan, pantun, syair, serta dangding; dan puisi baru (modern), yang dalam hal ini diwakili sajak. Dalam tulisan ini musikalisasi puisi kita maknai sebagai membuat lagu dari sajak.

Perlu dicatat, juru sanggi (komponis) lagu-lagu tembang dari pupuh, baik kinanti, asmarandana, sinom, maupun dangdanggula, seperti yang terdapat pada tembang cianjuran, sejatinya bisa digolongkan sebagai pelaku musikalisasi puisi. Sekali lagi, kita tahu bahwa terutama dalam rarancagan dan dedegungan, penciptaan lagu tembang cianjuran beramsalkan dari lirik dangding. Hal itu juga berlaku bagi Nano S saat membuat lagu dari dangding Alum Jalan Dalem Kaum karya Dedy Windyagiri menjadi lagu Dalem Kaum (simak album Katem, Kawih jeung Tembang, produksi 2002).

Bimbo telah lebih dulu menggarap musikalisasi puisi, di antaranya dari sajak karya Wing Karjo (Salju), Ramadhan KH (Kehadiran), Hidayat Suryalaga (ditulis dalam kaset Surya Hidayat, Lembayung Semakin Ungu), hingga karya Taufiq Ismail (Rindu Rasul, Sajadah Panjang, Cemara).

Dalam pelataran karawitan Sunda, tradisi membuat lagu dari karya puisi sempat populer lewat garapan Mang Koko (Koko Koswara) dalam jenis kacapian. Penyair pertama yang karyanya dibuat lagu adalah Siti Armilah dengan judul Angin Talatah. Sejak saat itu bermunculan penyair yang mengirimkan naskah sajaknya. Mereka antara lain Wahyu Wibisana (Kembang Tanjung Panineungan, Bulan Langlayangan Peuting, Reumis Beureum dina Eurih, dan lain-lain), RAF (Bulan Dagoan, Peuting jeung Pangharepan, dan lain-lain), Dedy Windyagiri (Tina Jandela, Kembang Impian, Girimis Kasorenakeun, dan lain-lain), Winarya Artadinata (Kudu ka Saha, Hareupeun Kaca, Sulaya Jangji, dan lain-lain), Nano S (Hirup, Gupay Lembur), Agus Sur (Purnama), R Sukendar K (Ngumbar Sawangan, Imut Subuh, Kembang Muguran, Pecat Sawed), serta Tatang Sastrawirya (Wengi Enjing Tepang Deui).

Kompromistis

Tradisi yang menarik dari Mang Koko adalah sikap kompromistis dengan penyair. Dedy Windyagiri ketika mengirimkan naskah lirik Girimis Kasorenakeun atau Kembang Impian sempat bolak-balik menemui Mang Koko karena harus melakukan kompromi tentang beberapa kalimat yang tanggung atau lirik yang bermakna “gelap”. Contohnya tatkala menanyakan arti ungkapan /Antara lolongkrang kiceup/urang pateuteup…// pada lagu Kembang Impian. Bisa dimengerti, metafor tersebut pada tahun 1960-an masih terbilang baru dan belum lumrah. Kompromi juga dilakukan saat harus menambah kata aduh, ieung, geuning, atau enung di sela-sela lirik agar terasa lebih mantap.

Sikap kompromistis antara Mang Koko dan para penyair senantiasa terbangun setelah lagu selesai dibuat. Biasanya Mang Koko selalu melakukan presentasi kepada penyairnya kalau-kalau lagu yang dibuatnya tidak sejiwa dengan isi tema sajak. Biasanya para penyair tidak pernah mendebat kecuali mengangguk setuju.

Metode penggarapan lagu dari sajak seperti itu pascatradisi Mang Koko kerap terlihat dari seniman Ubun Kubarsah. Ia biasa mencipta lagu dari sajak yang disodorkan Eddy D Iskandar (Ukur Cimata, Citraresmi, Nyawang Bandung, Citangis Aceh ), Aam Amilia (Jumerit Ati), Etti RS (Langit Endah), Ganjar Kurnia (Tanceb Kayon, Sakaratul Maot, Kulu-Kulu Jagat Anyar), Siti Armilah (Bangbara), atau Zahir Zachri (Parahiangan). Dalam garapannya, Ubun mewadahinya dengan wanda kacapian.

Dalam beberapa waktu terakhir, tradisi musikalisasi puisi digarap dengan membuat lagu dari lirik yang telah dipublikasikan di media cetak, baik majalah maupun tabloid, atau buku kumpulan sajak. Ubun pula di antaranya yang menggunakan metode tersebut. Ia membuat lagu dari sajak Godi Suwarna berjudul Sipatahunan yang diambil dari buku kumpulan Jagat Alit (Rahmat Cijulang), Ti Dieu dari sajak Eddy D Iskandar yang dimuat di buku Waruga Garba (Medal Agung). Selain itu, ia juga membuat lagu dari sajak yang pernah dimuat di majalah, seperti lagu Lawang Lawung di Galunggung karya Winarya Artadinata yang dimuat di majalah Mangl?.

Hampir sezaman dengan Ubun, seniman Yus Wiradiredja pun kerap membuat musikalisasi puisi dalam wanda kacapaian (kawih panambihan). Seniman yang juga juru tembang ini sempat membuat lagu dari karya Eddy D Iskandar yang diolah bersama seniman Ubun menjadi runtuyan kawih Deudeuh jeung Geugeut. Selain karya tersebut, masih lewat wanda kacapian, Yus sempat memusikalisasi sajak Langit Ceudeum karya Sayudi yang dimuat di buku Lalaki di Tegal Pati.

Solusi ke depan

Yang paling mutakhir, musikalisasi puisi Sunda digarap oleh Ferry Curtis. Sajak yang digarap adalah Langit Ceudeum (Sayudi); Tawis Soca (Etti RS); Sare, Priangan, dan Pananjung (Rachmat M Sas Karana); serta Cikaracak (Godi Suwarna). Sementara Paguyuban Panglawungan Sastra Sunda (PPSS) menggarap sajak Tresnaning Tresna (Godi Suwarna), Hiji Peuting (Etti RS), Pangbalikan (Wahyu Wibisana), Leuwi (Abdullah Mustapa), Ilangna Mustika (Kis WS), Onih (Sayudi), Priangan (Racmat M Sas Karana), Harepan (Taufik Fatorohman), Lalaki Langit (Juniarso Ridwan), Hujan di Buruan (Hadi AKS), dan Cirebon (Eddy D Iskandar).

Gerakan musikalisasi puisi adalah upaya untuk memperkenalkan karya sastra lewat lagu. Persoalannya adalah sejauh mana transfer bahasa tulis ke dalam bahasa karawitan (lagu) sehingga lirik yang memiliki kualitas itu menjadi lebih berkualitas, seperti berlaku pada Reumis Beureum dina Eurih, Kembang Tanjung Panineungan, atau Samoja untuk menyebutkan beberapa contoh.

Jika saat ini kerap muncul persoalan bahwa masyarakat, terutama siswa sekolah, sudah tak akrab lagi dengan sastra (puisi), tampaknya musikalisasi puisi merupakan solusi yang bisa dikedepankan. Yang pasti, masih banyak sajak terbaik dari penyair Sunda lainnya, seperti Usep Romli, Yous Hamdan, Yayat Hendayana, Soni F Maulana, Acep Zamzam Noor, Teddy AN Muhtadin, Darpan, dan Nunu Nazarudin Azhar, yang bisa dibuat lagu. Maka, marilah kita membuat musikalisasi puisi.

Dian Hendrayana Anggota Kelompok Studi Budaya Sunda Rawayan

Sumber: Kompas, 29/09/2007

Komentar

1 Komentar kana seratan “Musikalisasi Puisi Sunda”

  1. eeeeee merda | 24-02-2009, 03:25:59

    ngga ngrtii ..
    :(

Ngintunkeun Komentar